120 Unit Huntap Mulai Dibangun di Bukit Rata Aceh Tamiang, Pemuda Lokal Mulai Dilibatkan

Fadly P.B

120 Unit Huntap Mulai Dibangun di Bukit Rata Aceh Tamiang, Pemuda Lokal Mulai Dilibatkan
Foto: Lokasi Pembangunan Huntap si Bukit Rata, Dok. Hafidz M
Ukuran teks

Pewarta: Hafidz M

 

Aceh Tamiang, (20/10/2026) – Pembangunan 120 unit rumah hunian tetap (huntap) di Desa Bukit Rata, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai memasuki tahap persiapan lahan. Proyek yang direncanakan berdiri di atas lahan seluas 12 hektare di areal Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit milik PT Evan Group itu turut membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat, khususnya pemuda Desa Bukit Rata dan Desa Paya Bedi.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah alat berat mulai bekerja melakukan perataan tanah. Pekerjaan tersebut menjadi tahap awal penyiapan kawasan sebelum pembangunan fisik rumah dilaksanakan.

Di tengah aktivitas pengerjaan lahan, masyarakat dari dua desa yang berdekatan mulai dilibatkan dalam kegiatan pengamanan alat berat. Para pemuda yang bersedia bekerja dijadwalkan secara bergiliran untuk menjalankan tugas penjagaan malam atau night keeper.

Koordinasi pekerjaan tersebut dilakukan oleh kepala dusun bersama ketua pemuda setempat. Sistem piket bergiliran diterapkan agar kesempatan bekerja dapat diberikan kepada sejumlah pemuda yang siap menjalankan tugas.

Bagi masyarakat sekitar, dimulainya proyek ini tidak hanya membawa harapan terhadap pembangunan hunian bagi korban bencana, tetapi juga membuka kesempatan memperoleh penghasilan dari aktivitas pembangunan di lingkungan mereka.

Lapangan Bersejarah yang Kini Memasuki Tahap Penataan

Lokasi pembangunan huntap tersebut memiliki nilai historis bagi masyarakat sekitar. Kawasan ini berada di sekitar lapangan sepak bola yang terletak di simpang pertigaan jalur Desa Bukit Rata–Paya Bedi dan Kebun Tengah.

Selama bertahun-tahun, lapangan tersebut dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan olahraga, pertemuan masyarakat, dan perayaan hari-hari besar.

Tempat itu juga menjadi ruang berkumpul bagi warga dari sejumlah desa di sekitarnya. Selain berfungsi sebagai sarana olahraga dan kegiatan sosial, lapangan tersebut disebut pernah dimanfaatkan sebagai zona aman (safe zone) dan lokasi pendaratan pejabat ketika Aceh Tamiang menghadapi bencana.

Menurut informasi yang dihimpun dari bahan pemberitaan mengenai kondisi setempat, pemanfaatan lapangan dalam situasi kebencanaan telah berlangsung sejak banjir besar pada 2006 hingga bencana banjir pada 2025. Sejumlah pejabat pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto, juga disebut pernah mendarat di lokasi tersebut saat melakukan kunjungan ke Aceh Tamiang.

Riwayat pemanfaatan lapangan itu menjadikannya bagian dari ingatan masyarakat mengenai penanganan bencana di wilayah tersebut. Meski kini kawasan perbukitan di sekitarnya mulai ditata untuk pembangunan hunian, keberadaan lapangan dan fungsi sosialnya tetap menjadi bagian penting dalam cerita masyarakat setempat.

Belum ada keterangan terverifikasi mengenai apakah seluruh area lapangan akan terdampak pembangunan atau apakah sebagian ruangnya masih dapat dipertahankan.

Kejelasan mengenai rencana penataan kawasan tersebut menjadi penting, mengingat lapangan selama ini digunakan untuk kegiatan masyarakat.

Peluang Kerja bagi Pemuda Bukit Rata dan Paya Bedi

Peluang kerja yang mulai tersedia saat ini adalah pengamanan sejumlah alat berat yang beroperasi di lokasi pembangunan. Pekerjaan tersebut dilaksanakan pada malam hari dengan sistem pergiliran petugas.

Kepala dusun dan ketua pemuda setempat berperan mengoordinasikan jadwal penjagaan bagi pemuda yang bersedia terlibat. Skema tersebut menjadi salah satu bentuk pelibatan masyarakat lokal pada tahap awal proyek.

Desa Bukit Rata dan Paya Bedi memiliki kedekatan geografis. Kedua desa tersebut hanya dipisahkan jalan umum utama yang lebarnya kurang dari empat meter, sehingga aktivitas pembangunan di kawasan tersebut berpotensi berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di kedua sisi jalan.

Selain pekerjaan penjagaan, pembangunan yang berlanjut ke tahap konstruksi berpotensi menghadirkan kebutuhan tenaga kerja lain, bergantung pada kebutuhan pelaksana proyek.

Peluang tersebut dapat mencakup pekerjaan pendukung, jasa transportasi, penyediaan konsumsi pekerja, maupun usaha kecil di sekitar lokasi.

Namun, jenis pekerjaan tambahan, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, dan mekanisme perekrutan belum dapat dipastikan. Informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak pelaksana pembangunan.

Pelibatan tenaga kerja lokal diharapkan dapat dilakukan secara terbuka agar masyarakat dari kedua desa memperoleh informasi yang jelas mengenai kesempatan kerja yang tersedia.

Bagian dari Upaya Pemulihan Pascabanjir Aceh Tamiang

Pembangunan huntap di Bukit Rata berlangsung di tengah upaya pemulihan Aceh Tamiang setelah bencana banjir besar pada November 2025.

Penyediaan hunian tetap menjadi salah satu kebutuhan penting bagi keluarga yang kehilangan atau mengalami kerusakan rumah akibat bencana.

Dalam pemberitaan ANTARA pada 23 Juli 2026, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid menyampaikan bahwa pemerintah memastikan ketersediaan lahan seluas 179 hektare untuk pembangunan 4.159 unit huntap yang tersebar di sembilan titik di Aceh Tamiang.

Menurut laporan tersebut, lahan berasal dari sejumlah sumber, termasuk perusahaan milik negara dan perusahaan swasta. Informasi itu menunjukkan bahwa penyediaan lahan menjadi salah satu tahapan penting dalam percepatan pembangunan hunian bagi korban bencana. Angka 4.159 unit tersebut merupakan data agregat untuk program huntap di Aceh Tamiang sebagaimana diberitakan ANTARA, bukan jumlah rumah yang akan dibangun di Bukit Rata.

Adapun proyek di Bukit Rata dalam informasi awal yang diterima redaksi direncanakan sebanyak 120 unit. Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi sebelumnya juga menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak menjadi prioritas pemerintah daerah.

Dalam publikasi resmi Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang pada 4 Juni 2026, Armia menyatakan, “ Kebutuhan masyarakat menjadi prioritas kami, segala upaya kami maksimalkan agar hak warga yang terdampak banjir bisa terpenuhi.”

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks upaya pemerintah daerah menyelesaikan persoalan pascabanjir dan memenuhi kebutuhan warga terdampak. Dalam konteks pembangunan di Bukit Rata, keberhasilan program nantinya tidak hanya ditentukan oleh jumlah rumah yang dibangun, tetapi juga kelayakan hunian, kepastian penerima manfaat, ketersediaan fasilitas dasar, dan akses penghuni terhadap aktivitas ekonomi.

Kualitas Hunian dan Fasilitas Pendukung Perlu Diperhatikan

Perataan tanah yang sedang berlangsung menjadi tahapan awal dalam penyiapan kawasan. Mengingat lokasi pembangunan memiliki kontur berbukit, penataan lahan perlu memperhatikan kondisi tanah, kestabilan lereng, sistem drainase, serta arah aliran air hujan.

Aspek tersebut penting untuk memastikan kawasan hunian aman dan dapat digunakan dalam jangka panjang. Jalan lingkungan, saluran pembuangan air, akses listrik, air bersih, dan sanitasi juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kawasan.

Selain itu, kondisi jalan utama yang relatif sempit di antara Bukit Rata dan Paya Bedi perlu dipertimbangkan selama kegiatan pengangkutan material maupun mobilisasi kendaraan proyek.

Koordinasi antara pelaksana pembangunan, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat membantu menjaga keselamatan serta meminimalkan gangguan terhadap aktivitas warga.

Hingga berita ini disusun, informasi mengenai jadwal penyelesaian pembangunan, spesifikasi rumah, nilai proyek, nama kontraktor, dan target penyerahan hunian belum tersedia dalam bahan yang diterima redaksi.

Kejelasan informasi tersebut diperlukan agar masyarakat dapat mengikuti perkembangan pembangunan secara objektif dan mengetahui tahapan yang akan dilaksanakan setelah pekerjaan perataan tanah selesai.

Menanti Manfaat Nyata bagi Masyarakat

Dimulainya pembangunan 120 unit huntap di Bukit Rata menjadi perkembangan yang dinantikan, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan hunian tetap setelah bencana. Pada saat yang sama, keterlibatan pemuda dalam pengamanan alat berat menunjukkan adanya peluang kerja yang mulai terbuka di sekitar lokasi proyek.

Masyarakat berharap pembangunan dapat berjalan sesuai rencana, memberikan hunian yang layak kepada penerima manfaat, dan membuka kesempatan ekonomi bagi warga sekitar secara proporsional.

Di sisi lain, komunikasi mengenai perubahan pemanfaatan lahan dan keberlanjutan fungsi ruang publik perlu dilakukan secara terbuka, mengingat kawasan tersebut memiliki nilai historis bagi masyarakat setempat.

Dengan perencanaan yang baik dan koordinasi antara pihak terkait, pembangunan huntap di Bukit Rata diharapkan tidak hanya menghadirkan rumah bagi masyarakat terdampak bencana, tetapi juga memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh warga Desa Bukit Rata dan Paya Bedi.

Bagi masyarakat setempat, harapan kini tertuju pada kelanjutan pekerjaan: dari perataan lahan, pembangunan rumah, hingga tersedianya hunian yang layak dan aman bagi keluarga penerima manfaat.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks ›

Berita Terkini

Indeks ›
Aceh
Indeks