Aceh Tamiang – 24 Oktober 2026. Penguatan pendidikan karakter di era digital menjadi salah satu aspek penting dalam membangun generasi muda yang unggul dalam ilmu pengetahuan, berakhlak mulia, dan bijak memanfaatkan teknologi. Madrasah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga sebagai taman peradaban yang menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, sosial, dan intelektual kepada peserta didik.
Gagasan tersebut menjadi pokok bahasan dalam materi bertema “Penguatan Pendidikan Karakter di Era Digital: Madrasah sebagai Taman Peradaban” yang disampaikan oleh Dr. Fakhrurrazi, S.Pd.I., MA., Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Langsa, di MTsN 1 Aceh Tamiang.
Dalam pemaparannya, Dr. Fakhrurrazi menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menjadi fondasi utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Keberhasilan madrasah tidak cukup diukur melalui prestasi akademik, tetapi juga melalui kemampuan membentuk peserta didik yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghormati guru dan orang tua, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.
“ Madrasah harus menjadi taman peradaban, tempat menanam ilmu, menumbuhkan akhlak, dan membangun masa depan. Ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter agar melahirkan generasi yang cerdas, santun, berintegritas, dan bertanggung jawab,” demikian pesan utama yang diangkat dalam materi tersebut.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Kemudahan mengakses informasi, penggunaan kecerdasan buatan, dan perkembangan media sosial dapat mendukung proses pembelajaran. Namun, tanpa pendampingan dan penguatan karakter, teknologi juga berpotensi menimbulkan persoalan, seperti penyebaran berita bohong, perundungan siber (cyberbullying), penggunaan media sosial secara berlebihan, dan menurunnya etika dalam berkomunikasi.
Karena itu, peserta didik perlu dibekali kecakapan digital yang disertai tanggung jawab moral. Mereka harus mampu memilah informasi, menghargai perbedaan pendapat, menjaga etika berkomunikasi, menghormati privasi orang lain, serta memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang produktif dan bermanfaat.
Kepala Madrasah MTsN 1 Aceh Tamiang: Pendidikan Karakter Harus Menjadi Budaya Madrasah
Kepala Madrasah MTsN 1 Aceh Tamiang, Bapak H. Mirza Effendi, S.T., S.Pd.I., menekankan pentingnya menjadikan pendidikan karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh aktivitas pendidikan di madrasah.
Pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga membentuk kepribadian yang baik, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
“ Pendidikan karakter harus menjadi budaya dalam kehidupan madrasah, bukan sekadar materi yang disampaikan di ruang kelas. Kami ingin peserta didik MTsN 1 Aceh Tamiang tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, disiplin, menghormati guru dan orang tua, serta bijak dalam menggunakan teknologi digital.”
Penguatan pendidikan karakter juga membutuhkan keteladanan guru dan dukungan orang tua. Pembiasaan perilaku positif, penguatan nilai-nilai keagamaan, budaya saling menghormati, dan pendampingan penggunaan media digital perlu dilaksanakan secara konsisten.
Sinergi antara madrasah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Madrasah sebagai Taman Peradaban
Konsep madrasah sebagai taman peradaban mengandung makna bahwa setiap peserta didik memiliki potensi yang harus dirawat, dibimbing, dan dikembangkan. Sebagaimana tanaman membutuhkan tanah yang subur, air, cahaya, dan perawatan, peserta didik juga membutuhkan lingkungan pendidikan yang kondusif, keteladanan, pembiasaan akhlak, serta bimbingan yang berkelanjutan.
Dalam perspektif ini, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik yang memberikan teladan dalam sikap, perkataan, dan tindakan. Nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Madrasah yang menjadi taman peradaban adalah madrasah yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk tumbuh secara utuh, baik dari aspek intelektual, spiritual, emosional, maupun sosial. Lingkungan belajar harus mendorong peserta didik untuk mencintai ilmu pengetahuan, membiasakan akhlak mulia, menghargai perbedaan, dan mengembangkan potensi diri.
Dalam konteks era digital, madrasah juga perlu membangun budaya digital yang sehat. Peserta didik harus memahami bahwa etika dan tanggung jawab tetap berlaku, baik dalam interaksi langsung maupun ketika menggunakan media sosial. Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperluas wawasan, meningkatkan kreativitas, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Kolaborasi Guru, Orang Tua, dan Masyarakat
Penguatan pendidikan karakter tidak dapat dibebankan kepada madrasah semata. Keluarga, masyarakat, dan lingkungan digital turut memengaruhi pembentukan kepribadian peserta didik.
Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang berkelanjutan antara guru dan orang tua dalam mengawasi perkembangan anak, membangun kebiasaan positif, serta memberikan pendampingan dalam penggunaan teknologi.
Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi pembiasaan nilai-nilai karakter. Sementara itu, orang tua diharapkan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menggunakan gawai dan berinteraksi di media sosial.
Melalui kerja sama tersebut, nilai-nilai yang ditanamkan di madrasah dapat diperkuat di lingkungan keluarga dan masyarakat sehingga menjadi bagian dari kepribadian peserta didik.
Dr. Fakhrurrazi, S.Pd.I., MA. merupakan dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Langsa. Selain aktif dalam dunia akademik, beliau juga merupakan pengurus Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Langsa yang memberikan perhatian terhadap pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan.
Sebagai akademisi dan pemerhati pendidikan Islam, Dr. Fakhrurrazi memiliki perhatian terhadap peran lembaga pendidikan Islam dalam membangun karakter, menanamkan nilai-nilai keagamaan, serta mengembangkan budaya religius di tengah masyarakat.
Komitmen tersebut juga tercermin melalui karya tulisnya yang berjudul Peranan Dayah Salafiyah dalam Pengembangan Budaya Religius. Buku ini mengangkat peran dayah salafiyah dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dan membangun budaya religius dalam kehidupan masyarakat.
Melalui kiprah akademik, keterlibatan dalam organisasi pendidikan, dan karya tulisnya, Dr. Fakhrurrazi mendorong penguatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak mulia dan karakter peserta didik.
Gagasan madrasah sebagai taman peradaban menjadi relevan dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital, ketika kecerdasan intelektual perlu diimbangi dengan kematangan moral, spiritual, dan tanggung jawab sosial.
Menanam Ilmu, Menumbuhkan Akhlak, Membangun Masa Depan
Penguatan pendidikan karakter di era digital diharapkan mampu memperkuat komitmen seluruh warga madrasah dalam melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kokoh dalam nilai-nilai keagamaan, santun dalam pergaulan, bijak menggunakan teknologi, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat, bangsa, dan negara.
Keberhasilan pendidikan pada hakikatnya bukan hanya melahirkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, melainkan juga manusia yang memiliki integritas, kematangan moral, tanggung jawab sosial, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.
Madrasah sebagai taman peradaban merupakan komitmen untuk menjadikan pendidikan sebagai ruang tumbuhnya ilmu pengetahuan, berkembangnya akhlak mulia, dan lahirnya generasi masa depan yang berkarakter.
