Warga bersama geuchik mengisi karung dengan tanah untuk menahan luapan sungai. Jika tak segera ditangani, puluhan hektare sawah terancam terendam.
Aceh Utara – Malam belum sepenuhnya beranjak ketika warga Gampong Tanjong Krueng Pase, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, justru mulai berjibaku dengan tanah dan karung akibat tanggul Krueng Pasee jebol. Air sungai mengancam hamparan sawah yang padinya tinggal menunggu waktu untuk dipanen.
Bagi para petani, kerusakan tanggul bukan sekadar persoalan infrastruktur. Di balik pematang sawah, ada berbulan-bulan kerja keras yang dipertaruhkan. Padi yang hampir menguning sempurna itu kini dibayangi ancaman gagal panen jika luapan air tak segera dibendung.
Pada Sabtu dini hari, 24 Oktober 2026, warga bersama Geuchik Tanjong Krueng Pasee, Abu Bakar, bergotong royong menambal tanggul yang rusak. Mereka memasukkan tanah ke dalam karung, lalu menyusunnya sebagai penahan darurat agar air tidak meluas ke persawahan.
Gotong royong berlangsung sejak sekitar pukul 00.00 hingga pukul 04.00 WIB. Warga dari gampong tetangga turut turun tangan membantu. Dengan peralatan seadanya, mereka berupaya menahan ancaman air sebelum kerusakan semakin meluas.
“ Keadiannya tadi malam sekitar pukul dua. Masyarakat Tanjong Krueng Pasee dan ada juga warga gampong tetangga ikut membantu bergotong royong memasukkan tanah ke dalam karung untuk menahan air agar tidak sampai ke sawah, karena padi sudah siap panen,” ujar seorang warga kepada Tribunpase.id.
Warga tersebut mengirimkan video yang memperlihatkan masyarakat bergotong royong di lokasi tanggul yang jebol.
Di tengah gelap malam, karung-karung berisi tanah menjadi benteng sementara. Warga berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa dipertahankan, sembari berharap air tidak merembes lebih jauh ke lahan pertanian.
Mereka khawatir, jika penanganan tak segera dilakukan, puluhan hektare sawah milik warga akan terdampak. Bukan hanya ancaman kehilangan hasil panen, tetapi juga kemungkinan banjir kembali melanda kawasan tersebut.
Warga pun meminta pemerintah segera turun tangan memperbaiki tanggul. Mereka berharap penanganan permanen tidak menunggu sampai air lebih dahulu menguasai persawahan.
Tanggul Jebol Sekitar 30 Meter
Geuchik Tanjong Krueng Pasee, Abu Bakar, membenarkan tanggul Krueng Pasee jebol akibat air sungai yang meluap setelah hujan mengguyur kawasan itu.
Ia mengatakan, keputusan mengajak warga bergotong royong diambil karena kondisi persawahan sedang mendekati masa panen. Jika air terus mengalir ke lahan pertanian, kerugian yang ditanggung petani bisa semakin besar.
“ Tanggul Krueng Pasee jebol tadi malam karena air sungai meluap. Saya mengajak masyarakat untuk bergotong royong, mengingat padi di sawah tinggal menunggu panen. Sayang masyarakat,” kata Abu Bakar.
Menurut dia, kerusakan tanggul diperkirakan mencapai 30 meter. Warga berupaya menutup bagian yang jebol sejak tengah malam hingga menjelang subuh dengan menggunakan tanah yang dimasukkan ke dalam karung.
Namun, upaya tersebut masih bersifat darurat. Dengan peralatan seadanya, warga hanya berusaha menahan aliran air agar tidak semakin meluas ke kawasan persawahan.
Abu Bakar berharap pemerintah segera menangani kerusakan tanggul tersebut. Ia mengingatkan, jika tidak segera diperbaiki, ancaman genangan air dapat meluas dan berdampak terhadap persawahan di sekitar dua kecamatan.
“ Harapan masyarakat, tanggul tersebut cepat ditangani. Kalau tidak, kami hanya bisa menambal dengan alat seadanya. Sekitar dua kecamatan sawah akan terendam,” ujarnya.
Menunggu Penanganan Sebelum Panen Terancam
Gotong royong warga Tanjong Krueng Pasee menjadi gambaran bagaimana masyarakat berupaya menghadapi ancaman banjir dengan kemampuan yang mereka miliki. Di saat tanggul rusak dan air sungai meluap, warga memilih bergerak lebih dahulu demi melindungi sawah yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Tetapi tenaga warga dan karung berisi tanah tentu memiliki keterbatasan. Penanganan darurat hanya dapat menjadi penahan sementara, bukan pengganti perbaikan tanggul yang memadai.
Kini, harapan warga tertuju kepada pemerintah dan instansi terkait agar segera memeriksa kondisi tanggul serta mengambil langkah penanganan yang diperlukan.
Sebab, bagi petani, waktu menjelang panen bukanlah waktu yang bisa dianggap sepele. Berbulan-bulan merawat tanaman dapat terancam sia-sia jika air telanjur menggenangi sawah.
Di Krueng Pasee, malam itu warga telah berusaha menahan air dengan tangan mereka sendiri. Selanjutnya, mereka menunggu langkah pemerintah agar tanggul yang jebol tak berubah menjadi pintu masuk bagi bencana yang lebih besar.
Catatan redaksi: Besaran dampak terhadap sawah dan risiko banjir di sekitar dua kecamatan merupakan kekhawatiran yang disampaikan warga dan geuchik, bukan angka kerusakan yang telah diverifikasi secara independen. Tribunpase.id membuka ruang konfirmasi dan hak jawab bagi pemerintah serta instansi terkait sesuai Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers.
