Lhokseumawe – Suara dentuman dhum yang berat dan ketukan pakh yang nyaring terdengar harmonis dari Aula Kementerian Agama (Kemenag) Kota Lhokseumawe pada Jumat, 18 September 2026 siang. Sejak pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, ruang pertemuan tersebut berubah menjadi panggung kreativitas tanpa batas saat puluhan anak-anak disabilitas, siswa sekolah, dan pegiat komunitas budaya melebur menjadi satu tanpa sekat.
Mereka adalah peserta Pelatihan Inklusif Gendang Aceh, sebuah inisiatif menyentuh hati yang digagas untuk meruntuhkan dinding pembatas sosial melalui jalur kebudayaan.
Kegiatan bernilai luhur ini berhasil terlaksana atas dukungan penuh serta sponsor dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Sinergi ini membuktikan bahwa ritme tradisional Aceh yang magis dan bertenaga tidak hanya milik mereka yang sempurna secara fisik, tetapi juga menjadi hak inklusif yang harus dilestarikan oleh semua kalangan.
Jembatan Tradisi dari Para Penjaga Budaya
Keberhasilan pelatihan adaptif ini tidak lepas dari dedikasi para narasumber dan maestro yang telaten mendampingi para peserta. Romi Pasla, seorang seniman geundrang berbakat yang menjadi instruktur utama, membagikan pengalamannya dalam merancang metode ketukan adaptif ini.
” Menolak menyerah pada sunyi atau gelap adalah energi yang saya rasakan dari anak-anak ini. Gendang Aceh atau geundrang adalah detak jantung kebersamaan. Saat mengajar mereka, saya tidak melihat keterbatasan, tetapi melihat potensi besar bagaimana rasa dan ketukan menyatu tanpa perlu banyak kata,” ungkap Romi Pasla di sela-sela kegiatannya melatih instrumen pukul tersebut.
Semangat inklusivitas ini juga disambut hangat oleh komunitas budaya setempat. Budayaqanz, salah satu komunitas kolektif pegiat seni yang ikut mengawal berjalannya program, menilai langkah ini sebagai tonggak baru bagi pemajuan kebudayaan di daerah.
Perwakilan dari Budayawan menegaskan bahwa kehadiran dukungan dana dari Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan LPDP menjadi amunisi berharga agar seni tradisi mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat secara berkelanjutan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Dukungan penuh pun mengalir dari pemangku adat. Tokoh adat sekaligus Budayawan Aceh, Tgk. Yusdedi, memberikan pandangan mendalam mengenai nilai spiritual dan filosofis dari kegiatan inklusif ini. Menurutnya, pelestarian adat harus berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan dan kebersamaan yang berkeadilan.
” Dalam falsafah hidup kebudayaan kita, adat itu merangkul, bukan memukul. Pelatihan ini adalah wujud nyata dari pemaafan sosial dan pemuliaan sesama makhluk. Ketika anak-anak disabilitas dan komunitas budaya duduk setara menabuh Gendang Aceh, mereka sedang merawat ruh asli kebudayaan Aceh yang luhur dan inklusif,” tutur Tgk. Yusdedi dengan penuh khidmat.
Meleburnya Ego dalam Satu Lingkaran
Lebih dari sekadar transfer ilmu musik, pelatihan yang diadakan di jantung Kota Lhokseumawe ini menjadi ruang perjumpaan kemanusiaan yang hangat. Siswa-siswi dari sekolah umum dan sekolah inklusi duduk berdampingan, saling membantu memegang instrumen, dan bertukar senyum dengan para seniman senior.
Dalam menabuh gendang tradisional, ego setiap individu harus ditekan. Jika satu orang memukul terlalu cepat atau egois, polanya akan rusak. Keharmonisan hanya tercipta lewat saling mendengarkan dan saling tenggang rasa sebuah filosofi yang pas untuk mengajarkan nilai inklusivitas kepada generasi muda Lhokseumawe.
Dukungan strategis dari para sponsor negara ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremonial belaka. Melalui kolaborasi lintas komunitas ini, Kota Lhokseumawe sedang merajut mimpi besar: melahirkan sebuah ansambel musik inklusif pertama yang nantinya akan tampil di panggung-panggung budaya nasional hingga internasional, membuktikan kepada dunia bahwa keterbatasan fisik bukanlah batas untuk melestarikan warisan indatu (leluhur).
Tepat pukul 16.00 WIB, sesi latihan ditutup dengan penampilan kolaborasi singkat yang menghentak seisi ruangan. Di bawah langit Lhokseumawe, gemuruh Gendang Aceh yang dimainkan oleh tangan-tangan istimewa itu mengalun kuat, mengabarkan pesan universal bahwa di dalam seni, semua manusia berdiri setara.
