81 Tahun Indonesia Merdeka: Sepatu di Tangan dan Lumpur di Kaki Jadi Rutinitas Pahit Anak Tanah Luas

Fadly P.B

81 Tahun Indonesia Merdeka: Sepatu di Tangan dan Lumpur di Kaki Jadi Rutinitas Pahit Anak Tanah Luas
Foto: Kondisi Jalan di Depan SDN 15 Tanah Luas Aceh Utara
Ukuran teks

‎Aceh Utara – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya menjadi momentum kebahagiaan bagi seluruh anak bangsa. Namun, potret kontras justru terlihat jelas di Gampong Blang Trieng, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara.

‎Alih-alih menikmati kemerdekaan infrastruktur, ratusan anak sekolah di wilayah ini setiap hari harus berjibaku melewati jalanan berlumpur pekat demi menuntut ilmu.

‎Akses jalan utama gampong yang terhubung langsung ke gerbang SD Negeri 15 Tanah Luas kini menyerupai kubangan lumpur. Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga mengganggu mobilitas harian dan merusak kenyamanan lingkungan permukiman setempat.

‎Sepuluh Tahun Menahan Penderitaan

‎Kerusakan infrastruktur jalan ini bukan persoalan baru. Berdasarkan pantauan di lapangan, bentangan jalan rusak parah ini mencapai kurang lebih 5 kilometer, membentang mulai dari kawasan Cot Barat hingga Ulee Buket.

‎Tidak hanya itu, jalur vital lainnya seperti akses dari arah Jalan simpang Rangkaya Buket Makarti turut mengalami nasib serupa. Urat nadi perekonomian dan mobilitas antar-gampong di Kecamatan Tanah Luas tersebut terganggu karena pengerasan jalan yang dulu pernah ada kini telah terkikis dan tertimbun lumpur.

‎Bagi warga Gampong Blang Trieng, situasi ini memunculkan kekecewaan yang mendalam. Selama sepuluh tahun lamanya, keluhan masyarakat seolah belum mendapat respons serius dari para pemangku kebijakan di tingkat kabupaten dan Provinsi. Mereka merasa kurang diperhatikan, terhambat oleh infrastruktur jalan yang dibiarkan tanpa perbaikan bertahun-tahun.

‎Asa di Balik Kubangan Lumpur

‎Pemandangan paling menyayat hati terjadi setiap pagi ketika anak-anak usia sekolah harus berangkat menimba ilmu. Dengan seragam putih merah yang bersih, para murid terpaksa melakukan “gerilya” kecil-kecilan demi menyambung masa depan.

‎” Kami harus buka sepatu sepanjang jalan yang berlumpur saat jalan kaki ke sekolah. Jalannya licin, kadang takut jatuh dan bajunya kotor. Kalau tidak buka sepatu, nanti kotor dan basah di kelas,” ungkap seorang murid SD dengan polosnya, sembari membersihkan sisa lumpur yang menempel di kakinya.

‎Keputusasaan turut dirasakan oleh para orang tua dan wali murid. Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, mereka merasa hak-hak dasar sebagai warga negara seakan diabaikan.

‎” Sudah delapan puluh satu tahun kita merdeka. Tetapi akses jalan utama dan jalan ke sekolah dasar negeri saja hancur seperti ini. Kami tidak tahu kapan mata pemerintah akan terbuka melihat warga dan anak-anak kami tersiksa setiap hari,” tutur salah seorang wali murid dengan nada penuh kekecewaan.

‎Menuntut Hak yang Setara

‎Menjelang perayaan kemerdekaan, masyarakat Blang Trieng hanya merindukan kenyamanan paling mendasar: akses mobilitas jalan yang layak, aman, dan bermartabat. Infrastruktur yang memadai bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan jembatan utama bagi anak-anak untuk menggapai cita-cita tanpa harus mengotori seragam mereka saban pagi.

‎Satu dekade berlalu tanpa aspal, sepuluh tahun pula kesabaran diuji di atas kubangan. Perayaan kemerdekaan boleh saja meriah di pusat-pusat kota dengan deretan pidato megah. Namun bagi anak-anak Blang Trieng, makna kemerdekaan hari ini tidak diukur dari kibaran bendera, melainkan seberapa bersih mereka bisa tiba di sekolah tanpa harus menenteng sepatu di tangan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks
Aceh
Indeks