Delapan Abad Samudera Pasai, 800 Pohon dan Doa untuk Masa Depan Tanah Pasee

Fadly P.B

Delapan Abad Samudera Pasai, 800 Pohon dan Doa untuk Masa Depan Tanah Pasee
Foto: Istimewa
Ukuran teks

Aceh Utara – Di bawah teduhnya pepohonan tua yang melingkupi Kompleks Makam Putroe Nahrisyah, Jumat (11/9/2026), masa lalu dan masa depan seolah berjalin kelindan. Lima hari sudah perayaan Milad ke-800 Kerajaan Samudera Pasai, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil yang karib disapa Ayahwa melangkah ke situs bersejarah di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera tersebut. ​

Bukan parade kemewahan atau pidato berapi-api yang ia bawa, melainkan cangkul, 800 bibit pohon, dan kantong-kantong santunan untuk anak yatim serta warga sekitar.

Angka 800 yang menandai delapan abad tapak peradaban Islam di ujung barat Nusantara itu tak dibiarkan menguap sebagai seremoni belaka, melainkan ditanam kembali ke bumi. ​

Merekam Jejak Sang Sultanah

Pemilihan Kompleks Makam Putroe Nahrisyah sebagai pusat kegiatan mengandung narasi historis yang dalam. Sultanah Nahrasiyah (1406–1428 M) bukan sekadar penguasa perempuan biasa.

Keturunan Sultan Malikussaleh ini memimpin Samudera Pasai menuju puncak kejayaan ekonomi, sains, dan diplomasi Islam di Asia Tenggara. ​

Nisan marmer berukir kaligrafi Arab bergaya Kufi yang menaungi peristirahatan terakhir sang Sultanah yang wafat pada 17 Zulhijjah 831 Hijriah menjadi saksi bisu keagungan seni peradaban masa itu. Mengunjungi tempat ini bukan sekadar ziarah, melainkan upaya menautkan kembali pencerahan masa lalu dengan kebijakan pembangunan hari ini.

Pelestarian cagar budaya, penanaman warisan ekologis, dan kepedulian pada warga sekitar dipertemukan dalam satu hela napas. ​Dari Romantisme Sejarah Menuju Keberlanjutan ​Di balik riuhnya simbolisme, ujian sesungguhnya bagi pemerintahan Ayahwa justru baru dimulai. Menanam 800 pohon adalah langkah awal yang mudah;

memastikannya tumbuh rindang hingga puluhan tahun mendatang membutuhkan ketelatenan dan komitmen lintas generasi.

​Masyarakat Aceh Utara menaruh asa agar penanaman pohon dan santunan sosial ini tak berhenti sebagai rutinitas agenda Jumat Berkah semata.

Di tengah dinamika pembangunan modern, perpaduan antara perlindungan cagar budaya, pemeliharaan lingkungan hidup, dan pengentasan kemiskinan warga lokal diharapkan menjelma menjadi pilar kebijakan terukur. ​Delapan abad telah berlalu sejak Samudera Pasai pertama kali memancarkan pengaruhnya.

Kerajaan boleh berganti dan zaman terus berputar, namun ukuran keberhasilan sebuah perayaan bukan terletak pada semaraknya seremoni, melainkan pada apa yang tetap tumbuh dan dirasakan masyarakat setelah panggung dibongkar.

Dari tanah Kuta Krueng, sebuah pesan sunyi kini telah ditanam: sejarah dirawat dengan ingatan, lingkungan dijaga dengan tindakan, dan warga dirangkul dengan kepedulian.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks
Aceh
Indeks