Aceh – Peringatan Hari Damai Aceh yang ke-21 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (16/08/2026), yang seharusnya berlangsung khidmat dan sejuk, justru tercoreng oleh insiden kericuhan. Di tengah asa menjaga merawat perdamaian yang telah berjalan lebih dua dekade, ketegangan sempat memuncak hingga berujung pada aksi lempar dan letusan senjata api.
Peristiwa yang bermula dari situasi kondusif tersebut mendadak riuh setelah sejumlah oknum melakukan provokasi dengan melemparkan bebatuan serta botol air mineral ke arah aparat keamanan.
Berdasarkan keterangan narasumber di lapangan, Nasri, situasi mulai memanas menyusul adanya aksi demonstrasi serta pengibaran atribut atau bendera tertentu yang menarik perhatian aparat penegak hukum. Jajaran TNI dan Polri bergerak cepat melakukan upaya persuasif dan pencegahan agar eskalasi tidak meluas menjadi konflik terbuka yang dapat mengancam keselamatan publik.
Refleksi 21 Tahun Perdamaian: Merawat Ingatan, Menguji Ketahanan
Usia 21 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi perjalanan damai Serambi Mekkah. Sejak nota kesepahaman (Memorandum of Understanding / MoU) Helsinki ditandatangani pada 15 Agustus 2005 silam, masyarakat Aceh telah menikmati rasa aman dan pembangunan yang berkelanjutan.
Insiden di jantung Kota Banda Aceh ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak bahwa perdamaian memerlukan perawatan kolektif. Ada beberapa poin krusial yang perlu dicermati bersama:
Hindari Provokasi: Masyarakat diimbau agar tidak mudah terpancing oleh narasi atau potongan video yang beredar di media sosial.
Bijak Bermedia Sosial: Publik diminta untuk menyaring informasi dan menyikapi setiap rekaman peristiwa secara objektif guna menghindari disinformasi.
Komitmen Bersama: Seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, pemuda, dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga keutuhan bingkai damai Aceh.
Pekerjaan Rumah Pemangku Kebijakan
Di balik insiden tersebut, riaknya ketidakpuasan sosial tidak boleh diabaikan begitu saja.
Nasri mengingatkan bahwa perjalanan sejarah Aceh sangat panjang dan penuh pengorbanan. Jangan sampai narasi perpecahan muncul akibat ulah segelintir oknum yang memanfaatkan momentum tertentu.
” Memang ada hal-hal yang mungkin hak-hak masyarakat Aceh belum sepenuhnya terpenuhi. Ini tentu menjadi tugas utama bagi para pemangku kepentingan dan pimpinan yang bertugas saat ini untuk menyelesaikannya secara bijak dan bermartabat,” ujar Nasri.
Peristiwa ini sekaligus menjadi evaluasi penting bagi pemerintah pusat dan daerah untuk terus mengakselerasi realisasi butir-butir MoU Helsinki yang belum tuntas.
Dialog konstruktif dan pendekatan kesejahteraan dinilai menjadi kunci utama agar kekecewaan di tingkat akar rumput tidak kembali disetir oleh kepentingan yang memecah belah.
Aceh hari ini adalah rumah bagi semua. Merawat damai berarti menjaga masa depan generasi mendatang agar tidak kembali merajut asa di atas puing-puing konflik.
